Kota Kupang (16/10). Menyikapi insiden yang terjadi di Aceh Singkil belum lama ini, Pemerintah Kota Kupang menggelar rapat koordinasi bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Kupang dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (FKPD) Kota Kupang. Sekda Kota Kupang, Bernadus Benu, SH, M.Hum dalam rapat yang berlangsung di Kantor Walikota Kupang, Kamis (15/10) menjelaskan pertemuan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi tindakan kriminal yang berbau SARA sebagai respon terhadap Aceh Singkil.

Hasil rapat koordinasi ini diharapkan berupa kesepakatan dan imbauan yang akan disampaikan melalui media massa dan mimbar keagamaan. Sekda mengakui kekuatiran muncul akibat provokasi yang belakangan ini marak disebarkan melalui media sosial oleh oknum tak bertanggung jawab, yang pada akhirnya bisa memancing respon kaum radikal yang dapat mengacaukan ketentraman Kota Kupang.

Kapolresta Kupang Kota, AKBP Budi Hermawan juga mengakui kuatir dengan bahasa-bahasa yang disebarkan di medsos dalam  menyikapi masalah di Aceh Singkil belakangan ini yang sangat provokatif. “Kalau ada tetangga yang ribut kita jangan ikut-ikutan. Bayangkan kalau semua pulau di Indonesia bergolak karena termakan isu yang disebarkan oleh orang-orang yang sebenarnya tidak tahu banyak tentang persoalan sebenarnya,” ujarnya. Karena itu dia mengajak semua pihak untuk menyatukan suara dan langkah menjaga kerukunan umat beragama di Kota Kupang yang sudah berjalan baik selama ini. Menurutnya yang perlu dilakukan sekarang adalah mencari obat yang tepat agar penyakit yang sama tidak sampai masuk ke Kota Kupang. Karena itu pertemuan ini diharapkannya bisa menghasilkan keputusan yang membuat dingin Kota Kupang.

15-OKTOBER-2015-PERTEMUAN-FKUB-DAN-FORKOPINDA-KOTA-KUPANG-SIKAPI-PERISTIWA-ACEH-SINGKIL-31Hal yang sama juga disampaikan Dandim 1604/Kupang, Letkol Inf Subar. Menurutnya perlu diambil sikap terhadap persoalan sama seperti yang terjadi Tolikara sebelumnya. Masyarakat diminta untuk jangan terjebak isu yang disebarluaskan melalui medsos seperti fb juga lewat sms. “Kita tidak ingin negara ini pecah gara-gara perang saudara seperti zaman kerajaan dulu,” tegasnya.

Ketua FKUB Kota Kupang, Pdt. Rio Fanggidae yang hadir bersama perwakilan dari semua agama yang ada di Kota Kupang mengakui kejadian di Aceh Singkil belum lama ini mendapat tanggapan bervariasi terutama di medsos. Yang perlu dilakukan adalah bagaimana mendorong umat untuk tidak melakukan tindakan destruktif karena akan merusak persaudaraan. “Bukan berarti kita tidak peduli dengan teman-teman di Aceh Singkil, tapi yang paling penting menjaga keutuhan sebagai umat beragama,” tambahnya. (hum@s)

Info Sehat

Pengumuman

Fasilitas

Pijat & SPA

Perbankan

Tempat Bermain Anak

Tempat Fitness

Biliar

Rumah Makan