• 01.png
  • 02.png
  • 03.png
  • 04.png
  • 05.png
  • 06.png
  • 07.png

22 OKTOBER 2015 WALIKOTA BERKANTOR DI KELURAHAN NEFONAEK 11Kota Kupang (23/10/2015). Krisis air bersih yang melanda Kota Kupang belakangan ini ternyata diakui oleh sebagian besar warga Kota Kupang. Tak terkecuali warga Kelurahan Nefonaek. Hal ini terungkap saat Walikota berkantor di kelurahan tersebut.

Menyadari besarnya kebutuhan akan air bersih tersebut, bahkan sejumlah warga secara terbuka menyatakan kesediaan untuk mendukung proyek pembangunan Bendungan Kolhua yang digagas Pemerintah Kota Kupang. Hj. Saleh Orang, tokoh masyarakat Kelurahan Nefonaek dalam dialog bersama Walikota menyatakan selain pembangunan jalan lingkungan dan penerangan jalan, ketersediaan air bersih menjadi salah satu prioritas yang perlu diperhatikan Pemkot Kupang. “Kalau mau demo di atas (Kolhua), kami warga Nefonaek siap ikut,” tegasnya.

Keluhan tentang minimnya air bersih juga disampaikan oleh warga lainnya. Menurut mereka layanan air bersih dari PDAM Kabupaten Kupang yang mereka pakai selama ini ternyata sangat mengecewakan. “Air dari Baumata sudah habis di wilayah Penfui dan Liliba. Sampai di Perumnas hanya dapat anginnya saja,” ungkap mereka dengan nada kecewa. Karena itu mereka minta agar Pemkot segera mencari alternatif terbaik untuk menjawab kebutuhan tersebut. Bahkan keluhan tentang air bersih juga diakui oleh Lurah Nefonaek Titus Ratuarat, S.Sos yang kerap mendengar pengaduan masyarakat soal itu.

Menanggapi desakan tersebut, Walikota Kupang, Jonas Salean, SH, M.Si menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah berusaha agar proyek tersebut sudah bisa dibangun dalam waktu dekat. Proses pembebasan lahan pun diusahakan bisa selesai dalam tahun ini. Apalagi sudah ada perintah langsung dari Presiden Jokowi.

Mengenai pembebasan lahan diakuinya masih mendapat penolakan dari sekelompok orang. Pemkot Kupang masih berupaya dengan pendekatan persuasif. Saat ini warga Kolhua juga kesulitan mendapatkan air bersih. Dalam sehari Pemkot mengirim kurang lebih tujuh tangki air bersih ke daerah Kolhua untuk membantu warga di sana. Jika tidak berhasil, pihaknya akan berupaya dengan cara lain, apalagi diakuinya kepemilikan lahan yang diklaim warga tersebut sebenarnya secara administrasi tidak ada. Walikota mengapresiasi Keuskupan Agung Kupang yang telah bersedia menyerahkan lahan milik Keuskupan seluas belasan hektar untuk pembangunan Bendungan Kolhua.

Selain masalah air bersih, pertemuan tersebut dibahas juga soal penerangan jalan dan sampah. Sejumlah warga mengeluhkan jalan-jalan di lingkungan mereka yang  gelap. Lampu jalan yang dipasang beberapa tahun lalu hanya menyala selama tiga bulan dan kemudian padam hingga hari ini. Mengenai sampah warga minta agar masing-masing RT menyediakan satu orang petugas khusus untuk mengangkut sampah dari setiap rumah. Usul tersebut mendapat sambutan positif dari Walikota, yang meminta Kelurahan untuk mengatur tentang penempatan tenaga khusus untuk mengangkut sampah.

22 OKTOBER 2015 WALIKOTA BERKANTOR DI KELURAHAN NEFONAEK 21Sedangkan soal penerangan jalan, Walikota juga menyatakan sudah memerintahkan staf bagian umum untuk segera memperbaiki lampu-lampu jalan yang rusak. Pada kesempatan yang sama hadir juga mantan pejabat Barnabas Ndjurumana, yang kini menjadi tokoh masyarakat di Nefonaek. Barnabas yang pernah menjabat sebagai Sekda Kabupaten Kupang beberapa tahun lalu itu mengapresiasi program Walikota berkantor ini. Menurutnya inisiatif untuk mendengar langsung aspirasi warga ini belum pernah dilakukan oleh kepala daerah lain. Dia juga mengapresiasi pasangan walikota dan wawali Jonas Salean, SH,M.Si dan dr. Hermanus Man yang sudah mewujudkan janji-janji politiknya saat kampanye lalu. Pada kesempatan tersebut Barnabas juga memberi catatan tentang mulai berkurangnya akses masyarakat ke ruang publik bibir pantai di wilayah Kota Kupang yang mulai ditutupi oleh bangunan hotel dan restoran.

Mewakili warga, Barnabas meminta agar Pemkot membangun jalan untuk akses warga ke bibir pantai. Permintaan tersebut pun langsung ditanggapi oleh Walikota yang bersedia membangun jalan untuk akses ke pantai. Walikota menambahkan saat ini pemerintah juga tengah berupaya membangun pembatas pantai yang sayangnya masih ditolak oleh warga setempat. Padahal kehadiran tembok pembatas tersebut dimaksudkan untuk melindungi warga di pesisir dari terangan gelombang laut saat musim barat. (hum@s)

Pengumuman

Fasilitas

Pijat & SPA

Perbankan

Tempat Bermain Anak

Tempat Fitness

Biliar

Rumah Makan