SEJARAH NAMA AIR MATA

Dua Makna ‘Air Mata’

Airmata merupakan nama salah satu dari 3 kawasan pemukiman muslim di kota Kupang, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Nama Airmata disini memiliki dua makna : pertama kawasan ini memang merupakan sumber mata air sungai yang membelah kota Kupang. Makna Kedua, di tempat inilah banyak airmata yang tumpah akibat kekejaman penjajah Belanda dan Jepang, Setidaknya ada tiga ulama yang ditangkap dan diasingkan Belanda hingga mereka wafat dan dimakamkan di sini, yakni Kiyai Arsyad asal Banten, Dipati Amir Bahrain asal Bangka dan Sultan Dompu asal Bima. Ketiga tokoh itu yang kemudian juga menjadi Penyebar Agama Islam di Kupang dan sekitarnya. Makam para ulama itu terletak berdekatan dalam sebuah kompleks yang dikenal dengan nama Kuburan Batu Kadera.

Masjid yang sudah berusia sekitar 200 tahun itu dibangun diatas tanah hibah Sya’ban bin Sanga Kala pada 1806 bersama dengan Kyai Arsyad (tokoh pergerakan Banten yang dibuang Belanda ke Kupang) dibantu umat Kristiani yang ada di sekitar kampung Airmata Kupang. Masjid Al-Baitul Qadim merupakan masjid tertua di Pulau Timor, dan dijadikan sebagai pusat penyebaran agama Islam pada saat itu hingga sampai ke Timor Portugis (Timor Leste sekarang).

Syahban bin Sanga Kala merupakan warga Muslim pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Timor dalam pelayarannya dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Syahban bin Sanga Kala berasal dari Mananga, sebuah kampung di Pulau Solor bagian barat.

Menurut Munandjar Widiyatmika, peneliti masuknya agama Islam di NTT, Islam masuk pertama kali di NTT mulai dari Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur pada abad ke-15. Dimulai dari Mananga, Pulau Solor dilakukan oleh para pedagang yang juga Ulama dari Palembang, Sumatera selatan, ulama tersebut bernama Syahbudin bin Salman Al Faris yang kemudian dikenal dengan sebutan Sultan Menanga. karena pertama kali membawa misi penyebaran agama Islam di NTT dari Mananga, Pulau Solor di Kabupaten Flores Timur. Dari Mananga, Islam kemudian perlahan-lahan masuk ke Pulau Flores, Alor dan Kupang seperti di Airmata itu.

Dapat difahami bila kemudian penyebar Islam pertama di daerah Airmata, Kupang adalah Ulama yang berasal dari Menanga, karena memang Islam di Pulau Timor bermula masuk dari sana. Hampir enam tahun lamanya baru masjid itu selesai dibangun dalam periode 1806-1812. Pada 1984, imam masjid turunan ketujuh,  Birando bin Tahir, mulai melakukan pemugaran atas masjid bersejarah itu guna melestarikan keberadaannya sebagai pusat penyebaran Islam di Pulau Timor.

Menurut penuturan dari H. Imam Birando bin Taher, Imam Masjid Agung Airmata ke tujuh yang juga tokoh masyarakat Airmata. Sejatinya Masjid Agung Airmata bukanlah Masjid yang pertama kali berdiri di Kupang. Sebelum nya sudah pernah ada dua kali didirikan Masjid oleh Kyai Arsyad tapi dua kali juga di berangus oleh penjajah Belanda. Kiyai Arsyad, yang banyak berperan dalam pengembangan Islam di Kupang. Sebelum ditangkap dan diasingkan, Kiyai Arsyad memimpin perlawanan masyarakat Cilegon, Banten, terhadap Belanda (1926).

Kiyai Arsyad mula-mula tinggal di Oeba, kawasan pantai di belahan utara Kupang. Dan mendirikan masjid. baru beberapa tahun, masjid itu digusur Belanda dengan dalih akan dijadikan kompleks perumahan pejabat.  Kiyai Arsyad dan pengikutnya kemudian bergeser ke arah selatan kota, di Funtein sekarang dan kembali mendirikan masjid. Tapi Belanda kembali menggusur masjid dan komunitas Kiyai Arsyad dengan alasan akan mendirikan perkantoran. Kantor Bupati Kupang sekarang diyakini sebagai lokasi berdirinya masjid Kiyai Arsyad.
Tergusur dari Funtein, Kiyai Arsyad beserta pengikutnya memindahkan komunitasnya ke arah selatan, Airmata sekarang dan tidak lagi digusur karena Belanda terlanjur angkat kaki dari Nusantara. Masjid Agung yang didirikan di Airmata ini dibangun di atas tanah wakaf Sya’ban bin Sanga Kala dan diberi nama Baitul Al-Qadim (rumah pertama).
Sya’ban bin Sanga pun mewakafkan anak-anaknya untuk kepentingan dakwah. Tiga puteranya, yakni Birando, Abdullah dan Bofid. Birando diwakafkan sebagai imam, Abdullah sebagai khatib dan Bofid sebagai muazzin. Tradisi mewakafkan diri pada masjid ini terus berlangsung hingga cucu-cucu Sya’ban. H. Imam Birando bin Taher yang masih memegang jabatan imam sekarang adalah cicit Sya’ban.

Masjid Agung Al-Baitul Qadim telah menurunkan tujuh orang imam kepala, di antaranya Birando bin Syaban, Ali bin Birando,  Djamaludin,  Abdul Gani,  Tahin bin Ali Birando dan Birando bin Tahir.

Arsitektur
Masjid itu dibangun dengan perpaduan arsitek antara unsur budaya Flores Timur dan Arab sebagai simbol perlawanan warga Airmata terhadap koloni Belanda dan Jepang pada masa itu. Masjid Air Mata ketika dibangun pertama kali tahun 1806 Masehi berarsitektur perpaduan seni arsitektur Jawa dan Cina. Dengan ukuran 10 x 10 meter, berbentuk joglo,  dengan atap genteng. Tahun 1984 masehi dilkukan pemugaran total dengan pemrakarasa Imam H. Birando bin Taher.  Menjadi bentuknya yang sekarang.

Pemugaran ini dilakukan Birando bin Tahir atas persetujuan jemaah setempat, dengan sejumlah alasan, di antaranya bertambah pesatnya warga Muslim dam Muslimah. Pemugaran itu juga didasarkan pada kondisi rumah ibadah tertua ini tidak layak lagi dipandang, karena sebagian dinding dan atap mengalami perapuhan, sehingga perlu direnovasi, tanpa menghilangkan keasliannya yang tetap nampak pada sebagian dinding ruangan yang hingga kini masih ada.

Mengunjungi masjid ini akan lebih mengesankan bila bersamaan dengan, saat perayaan Maulid Nabi, 12 Rabiul Awal. Berbeda dengan daerah lain, perayaan Maulid Nabi di Kupang, terutama di kedua ini memiliki tradisi yang sangat khas. Acara pokok mauludan adalah berzikir, yakni pembacaan kitab Barjanzi yang dilatunkan dengan irama tertentu serta diiringi oleh tabuhan rebana. Sepintas, seni berzikir ini hampir memiliki kesamaan dengan seni ruddat yang banyak dijumpai di wilayah Tapal Kuda, Jawa Timur. Tradisi yang sama juga dilaksanakan di Masjid Al-Falah, Kampung Solor, Kota kupang.

Peringatan Maulid Nabi di sini juga ditandai dengan aneka hidangan yang dihiasi aneka warna. Ada nasi merah dan kuning, ada telur ayam rebus, juga pisang rebus yang juga diberi aneka warna dan dihidangkan dalam nampan bersama nasi tadi. Lebih khas lagi, ada kelapa muda diukir aneka macam yang ditancapi kembang-kembang plastik. Semua aneka makanan, kelapa dan bunga itu selepas waktu Isya diarak beramai-ramai menuju masjid dengan lantunan Salawat Badar.

VISI, MISI DAN PROGRAM KERJA KELURAHAN AIRMATA

VISI :

“ TERWUJUDNYA KELURAHAN AIRMATA DALAM PELAYANAN MASYARAKAT YANG PRIMA, MENUJU MASYARAKAT YANG MANDIRI DAN SEJAHTERA”

MISI :

  1. Meningkatkan sumber daya manusia kelurahan professional dilandasi dengan iman, taqwa, dan berbudi;
  2. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan pada masyarakat dalam pembuatan dokumen secara cepat, tepat dan akurat;
  3. Meningkatkan kinerja aparatur kelurahan untuk selalu dapat memberikan pelayanan yang prima pada masyarakat;
  4. Meningkatkan peran serta masyarakat  dalam pembangunan secara swadaya dan mandiri menuju masyarakat sejahtera;
  5. Menciptakan situasi yang aman, nyaman dan kondusif;
  6. Meningkatkan kualitas  sumber daya manusia kelurahan yang professional dilandasi dengan iman, taqwa, dan berbudi;
  7. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan pada masyarakat dalam pembuatan dokumen  secara cepat, tepat dan akurat;
  8. Meningkatkan kinerja aparatur kelurahan untuk selalu dapat memberikan pelayanan yang prima pada masyarakat;
  9. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam pembangunan secara swadaya dan mandiri menuju masyarakat sejahtera dan;
  10. Menciptakan situasi yang aman, tertib, nyaman dan kondusif
0
0
0
s2sdefault